Tausiah Agama

Alhamdulillah, begita banyak nikmat yang Allah SWT berikan, yang tidak mampu kita untuk menghitungnya.

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴿٢٧﴾

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Luqman :27)

teruntai sholawat dan salam yang tiada terbilang, kepada Muhammad SAW insan terbaik secara mutlak, kekasih Allah SWT yang paling dicintainya sepanjang masa, sedangkan rasa cinta terdalam kepadanya telah memenuhi segenap hati umatnya,  keluarganya, para sahabatnya beserta sekalian pengikutnya yang bersungguh-sungguh menapaki jejaknya dari zaman ke zaman, hingga lenyapnya alam semesta ini kelak.

Allah S.W.T menciptakan ruang, dimensi dan waktu. Namun Allah S.W.T tidak bisa diukur dengan ruang, dimensi dan waktu. Allah S.W.T mampu membuat satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Allah S.W.T mampu membuat ribuan tahun di alam kubur tapi bagi orang yang beriman waktu itu hanya sekejap, seperti tidurnya seorang pengantin. Allah S.W.T Maha Tinggi tapi tidak dapat diukur dengan ketinggian, Maha Besar tidak dapat diukur dengan panjang kali lebar. Allah S.W.T tidak bisa diukur dengan volume atau massa jenis.

وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِير

“Dan sesungguhnya Dialah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.” (Qs. Luqman: 30)

Langit dan bumi tidak mampu menampung Dzat-Nya, jika Dia menampakkan pada sebuah gunung, maka hancurlah gunung itu. Hanya hati orang beriman yang mampu menampung Dzat-Nya, tajalli kepada Allah S.W.T.

tajjali : membuka /tampakkan. artinya jika Allah tampakkan zatnya, tidak ada yang bisa menampungnya, hanya pada hati-hati orang yang berimanlah yang bisa menampungnya.

Dalam hadits Qudsi. Allah S.W.T berfirman,
Mā wa si’aniy ardhī wa lā samā-ī wa wasi’aniy qalbu ‘abdil mukmin
“Tidak meliputi-Ku bumi dan langit, tetapi meliputi-Ku hati hamba-Ku yang mukmin.”

Hanya Allah S.W.T yang mengetahui berapa banyak jumlah tetes air hujan yang jatuh ke bumi dan jumlah butir-butir pasir di lautan. Hanya Dia yang mengetahui berat sebuah gunung, dan besarnya gunung itu tidak dapat menghalangi pandangan-Nya. Dia mampu mendengar sekaligus melihat suara, sebagaimana Dia mampu melihat warna dan mendengar warna.

إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِير

“Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Qs. Luqman: 28)

Meskipun seluruh orang yang paling pandai di dunia ini dikumpulkan, tidak akan ada satu pun yang mampu menciptakan sebutir beras. Secerdas apa pun manusia, apakah dia seorang Einstein, ia hanya bisa meneliti yang nampak dari makhluk ciptaan-Nya. Mereka tidak lebih cerdas dari seorang petani yang tidak tahu baca tulis, namun ketika ditanya siapakah yang menciptakan sebutir padi? Lalu ia menjawab, “Allah S.W.T.” Mereka hanya mengenal makhluk, sehingga mempertuhankan sesuatu yang dapat diraba, dilihat, atau dibentuk.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (Qs. Al Hajj: 73)

Allah S.W.T menciptakan dan mengatur tata surya yang berputar pada porosnya, padahal di dalam bumi tidak ada mesin penggerak. Jika bumi ini keluar dari porosnya beberapa derajat saja, maka planet-planet akan bertabrakan. Allah S.W.T menciptakan matahari dan mengatur jaraknya dari bumi. Jika beberapa derajat jarak bumi bergeser mendekati atau menjauhi matahari, maka bumi akan terbakar atau menjadi beku. Allah S.W.T menciptakan bulan, jika keluar dari garis edarnya sekian derajat saja, air laut akan pasang atau surut sampai hari kiamat. Allah S.W.T mampu menerangi Jannah tanpa matahari.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya (QS. Yunus:5)

Allah S.W.T mampu menciptakan sesuatu dengan asbab, tanpa asbab, bahkan bertentangan dengan asbab.

Matahari yang jutaan lebih besar dibandingkan dengan bumi, dan bintang-bintang yang milyaran jumlahnya berada dalam genggaman dan pemeliharaan Allah S.W.T. Ketika Nabi Musa a.s ditanya oleh kaumnya, “Apakah tidak pernah tertidur mengatur alam raya ini?” Lalu Allah S.W.T memerintahkan Musa a.s berdiri sambil memegang gelas, tak lama kemudian ia tertidur dan gelas di tangannya jatuh berantakan. Lalu Allah S.W.T berfirman, “Hai Musa, sampaikan kepada kaummu, seandainya sesaat saja Aku mengantuk, niscaya seluruh planet di jagat raya ini saling bertabrakan!”

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْم

“Allah, tiada yang berhak disembah selain Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur.” (Qs. Al Baqarah: 255)

Matahari yang jutaan lebih besar dibandingkan dengan bumi, dan bintang-bintang yang milyaran jumlahnya berada dalam genggaman dan pemeliharaan Allah S.W.T. Ketika Nabi Musa a.s ditanya oleh kaumnya, “Apakah tidak pernah tertidur mengatur alam raya ini?” Lalu Allah S.W.T memerintahkan Musa a.s berdiri sambil memegang gelas, tak lama kemudian ia tertidur dan gelas di tangannya jatuh berantakan. Lalu Allah S.W.T berfirman, “Hai Musa, sampaikan kepada kaummu, seandainya sesaat saja Aku mengantuk, niscaya seluruh planet di jagat raya ini saling bertabrakan!”

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْم
“Allah, tiada yang berhak disembah selain Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur.” (Qs. Al Baqarah: 255)

Allah S.W.T menciptakan suasana dan keadaan tanpa bantuan sedikit pun dari makhluk-Nya. Suasana panas dingin, sehat sakit, tua muda, perang damai, susah senang diciptakan oleh Allah S.W.T untuk menguji orang yang beriman. Dan Allah S.W.T akan mengubah suasana dan keadaan sesuai dengan ámal perbuatan manusia.

Allah S.W.T mampu membahagiakan manusia tanpa asbab, tanpa harta, pangkat, jabatan dan fasilitas lain. Bahkan Allah berkuasa mengubah benda-benda dan fasilitas itu menjadi asbab kecelakaan. Sebagaimana Namrudz dihinakan dalam kerajaannya, oleh Allah.

Makhluk tak bisa memberi manfaat dan mudharat tanpa izin Allah S.W.T. Dia mampu menyelamatkan manusia di dalam asbab kecelakaan, dan mampu mendatangkan manfaat walaupun dalam asbab mudharat. Hal ini hanya akan datang dari kesempurnaan iman. Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s dalam kobaran api, begitu juga Nabi Musa a.s diselamatkan dalam air yang menenggelamkan Fir’aun. Sedangkan Namrudz dibinasakan dalam istananya hanya dengan seekor nyamuk betina yang bersayap sebelah.

Ketika Rasulullah S.A.W hijrah bersama Abu Bakar r.a dalam pengejaran kaum kafir Quraisy. Lalu keduanya bersembunyi di dalam gua Tsur, Abu Bakar r.a khawatir keberadaan mereka berdua diketahui. Tetapi Rasulullah S.A.W bersabda, “Janganlah engkau takut dan jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita!”

Allah S.W.T memerintahkan makhluk yang lemah, seekor laba-laba membuat sarang untuk menutup mulut gua. Padahal Allah S.W.T mampu mengutus malaikat untuk melindungi Rasulullah S.A.W, namun Dia ingin menunjukkan kekuasaan-Nya bahwa makhluk yang paling lemah sekali pun, dapat menjadi asbab keselamatan.

Kaum kafir Quraisy tiba di mulut gua, namun mereka menemukan laba-laba sedang bersarang pada mulut gua dan sepasang burung diatas mulut gua itu. Mereka berfikir tidak mungkin Rasulullah S.A.W berada di dalam gua. Orang yang memikirkan agama hanya dengan logikanya adalah seperti fikiran orang-orang kafir. Berfikir bagaimana memiliki rumah mewah, perusahaan, kekuasaan agar bahagia adalah fikir ahlul batil untuk menghancurkan keyakinan umat ini.

Percaya dan yakin dengan kebesaran Allah S.W.T dan adanya hari akhirat, inilah yang dinamakan iman. Iman adalah menafikan yang nampak dan meyakini yang ghaib. Alam kubur ghaib, Jannah dan neraka juga ghaib, namun suka atau tidak suka, rela atau terpaksa, semuanya akan dilalui. Dunia ini nampak nyata, tetapi tidak lagi hanya tinggal cerita, sedangkan akhirat akan menjadi realita. Begitu kematian datang, ruh berpisah dari jasad manusia, maka yang ghaib akan nampak, sedangkan yang nampak di dunia ini akan menjadi ghaib.

iman akan meningkat berbanding lurus dengan berkurangnya kecintaan pada dunia, iman akan bertambah berbanding lurus dengan berkurangnya kehebatan makhluk didalam hati. keadaan iman seseorang dapat dirasakan sejauh mana ia berusaha untuk mengeluarkan benda-benda itu dari dalam hatinya. tingkat keimanan seseorang tidak dapat diukur dengan usia, jenis kelamin, miskin atau kaya, orang padai atau orang awam.

Manusia hanya mampu memikirkan sesuatu yang ada datanya. Alam kubur, Jannah dan neraka tidak ada datanya kecuali mengikuti petunjuk Rasulullah S.A.W. Orang yang memikirkan akhirat dengan logikanya sendiri tanpa ikut petunjuk Nabi S.A.W, adalah ibarat bayi di dalam rahim ibunya yang berfikir, “Untuk apa mata ini, di sini tidak ada pemandangan? Untuk apa telinga ini, di sini tidak ada suara? Saya cukup makan melalui tali plasenta, untuk apa mulut ini? Untuk apa kaki, di sini tidak ada jalan raya?” Pada awalnya dia merasa benar, namun setelah dilahirkan ke dunia ini, dia baru sadar fungsi seluruh anggota tubuhnya. Jika anggota tubuhnya cacat, mungkin ia bisa hidup, tetapi ia akan merasakan kesusahan dalam menjalani kehidupannya. Demikian pula jika iman dan ámal manusia cacat di dunia, maka di akhirat nanti akan mengalami penderitaan.

Advertisements

About Mr. Zaid Romegar Mair, ST., M.Cs

Man jadda wajada. Man shabara zhafira. Man saara ala darbi washala. because time is a sword, we have the same time is 24 hours a day. if your time is not used for religious (dien) then it will run out as well but not for religion (dien). thank you for stopping in my blog. introduce my profile. Zaid Romegar Mair received a ST in informatics Engineering (2008) from Ahmad Dahlan University, Yogyakarta, Indonesia. He then pursued higher degrees in the Gadjah Mada University, Yogyakarta Indonesia a M.Cs in Computer Science (2013). 2 weeks after post graduation married with woman of graceful intelligent bukittinggi western Sumatra that Nikmah Rasyid Ridha. blessed with a handsome boy Muhammad Amjad Nuhamair. from 2014 until now be lecturer Politeknik Sekayu,South Sumatera Indonesia. Interest in Data Mining, Digital Forensic and Artificial Intelligent. Now get a duty to support the theory and practical courses Computer Networking, Operating Systems, Algorithms and Data Structures, Human-Computer Interaction, Graphic Design, Office Applications, Typing 10 Finger and Applied Mathematics.
This entry was posted in agama, publish and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s