Homeschooling

homeschoolingwebinar    Jujur, belum pernah terfikirkan sebelumnya (out of list cita-citaku) untuk menjadi praktisi homeschooling (HS), educator utama bagi si buah hati. Bisa jadi karena belum menyaksikan secara langsung bagaimana HS ini diaplikasikan kepada anak sehingga mampu memaksimalkan kualitas diri anak tersebut. Dan belum juga mengerti ternyata potensi dari golden ages anak itu benar-benar sayaaang untuk disia-siakan. Saya mulai menyadari pentingnya pendidik yang baik untuk anak, ya semenjak saya dipilih-Nya untuk menjadi seorang ibu (al-madrasatul ula; sekolah pertama bagi anak-anaknya). Seiring menyaksikan tumbuh kembang putra pertama kami (sekarang 11 bulan), saya semakin tahu bahwa seorang anak yang dilahirkan ke bumi, bukanlah sekadar kertas kosong yang nantinya diisi oleh orang dewasa dan lingkungan sekitarnya. Namun, jauh lebih amazing dari itu, seorang anak telah disertakan oleh Sang Pencipta dengan keunggulan tersendiri yang apabila kita sadari dan fasilitasi akan memberikan dampak positif dalam tumbuh kembangnya.

Ooh, sungguh indah peran ibu. (Rabbana LaKal hamdu kulluhu wa LaKas Syukr, puji dan syukur hanya pantas untuk-Mu Tuhanku 😉 )

Semakin penasaran bagaimana praktisi homeschooling mampu menjadi perintis dan berbeda dari mainstream yang ada, telah mampu membimbing anak-anak mereka sehingga tetap berprestasi di Nusantara maupun Internasional dengan titel TIDAK BERSEKOLAH, saya akhirnya dituntun Yang Kuasa menemukan rumahinspirasi.com yang banyak memberi ilmu terkait ini. Dengan mengikuti webinar homeschooling, saya berharap menjadi salah satu orang tua yang tercerahkan untuk menjadi yang terbaik untuk putra-putrinya. Aamiiin

Bagi teman-teman yang penasaran dengan webinar sesi 1 “Basic dan Legalitas Homeschooling”, berikut sekelumit tentangnya dan terkait alasan orang tua memilih meng-homeschoolingkan anaknya, dan kenapa saya juga memilih homeschooling (just wanna share, hahay).

Anak-anak Homeschooling adalah anak-anak yang tidak bersekolah formal, namun tetap menjalani pendidikan atau pembelajaran didampingi orang tuanya. Proses pendidikan berbasis rumah ini diakui di Bumi Pertiwi kita Indonesia, bahkan sangat bisa untuk study abroad. Selagi punya tekad dan mau melangkah ke arah yang dituju.

Mungkin tidak ada alasan yang benar-benar sama ketika suatu keluarga memutuskan untuk ber-homeschooling ria. Beberapa alasan mengapa orang tua memilih homeschooling, diantaranya faktor agama sebagai prioritas keluarga, faktor kurikulum sekolah yang telah terpaket (kata Mas Aar –pakar homeschooling Rumah Inspirasi: bagai membeli makan yang paket-an tentu tidak bisa pilih-pilih sesuai selera bak memilih makan prasmanan –tahu aja nih si Bapak, kami doyan prasmanan), kekurang-seragaman visi sekolah konvensional dengan visi keluarga, orang tua yang sering berpindah-pindah tempat karena urusan bisnis, pendidikan dan lainnya, ingin anak memiliki banyak waktu untuk banyak bersosialisasi dengan banyak orang di beragam kegiatan, dan sebagainya. Apapun alasannya, tentunya Ayah Bunda memahami dan menginginkan yang terbaik untuk putra-putrinya.

HS ini hanyalah sebuah pilihan. Layaknya orang tua memilih untuk menitipkan dan memercayakan pendidikan anaknya ke lembaga sekolah dan jajaran guru. Tentu layak pula ada yang memilih mengasah-asih-asuh sendiri anak mereka. Tiada masalah sebenarnya dalam sebuah pilihan, asalkan setiap orang tua berkomitmen untuk bertanggungjawab terhadap amanah yang dititipkan Allah Swt. untuknya. Setiap orang tua memiliki modal cinta-kasih dan mau bekerja sunguh-sungguh dan professional untuk buah hatinya. Tentu sebaik-baik dan yang paling pantas mempertanggungjawabkan pendidikan anaknya pun adalah orang tuanya. Pendapat Dr. Raymond Moore mengenai pendidik terbaik adalah orang tua, patut digarisbawahi. Dia mengatakan, “Secara umum, guru terbaik atau pengasuh tidak dapat menyamai orangtua bahkan dengan pendidikan dan pengalaman yang biasa-biasa saja.”

Di samping belajar Keterampilan pengasuhan (parenting) secara mandiri, keluarga homeschooler pun juga mandiri atau bisa disebut otodidak mempelajari pola pendidikan yang dirasa tepat untuk dijalani. Kata pendidikan (education) –sebagaimana penjelasan Mas Aar di sesi 1 ini, berasal dari bahasa latin “educare” yang artinya mengeluarkan. Mengeluarkan potensi anak adalah tugas utama seorang pendidik, bukan sebatas memasukkan informasi dengan metode ceramah dsb. Jadi di dalam homeschooling anak akan menjadi lebih aktif dalam kegiatan belajar dan orang tua yang mendampingi kegiatan ini lebih tepat disebut dengan fasilitator.

Alasan Nizamair jatuh hati pada homeschooling aadalaah :

  • Tidak ingin waktu yang dimiliki pada masa kanak-kanaknya banyak bungatunggal1tersita oleh kurikulum atau mata pelajaran yang tidak diminati/digemarinya. Karena waktu sungguh sangat berharga dan tidak bisa diputar mundur kembali. Hingga ia memahami apa itu pembelajar sejati. Ketika ia ingin menuntut ilmu di belahan bumi manapun dan dengan siapa pun, terserah ia (اطلبوا العلم ولو بالصين), InsyaAllah kami izinkan asal iman tetap dijaga dan beribadah dengan aman.

  • Saya habungatunggalnya menjalankan fitrah yang jauuh saya rasakan di lubuk hati terdalam. Ketika melihat kaum Adam unggul dengan kewajiban menafkahi keluarga, si Hawa pun memiliki tanggung jawab besar terhadap anak dan keluarganya, (mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, menyediakan pendidikan yang berkualitas untuk anak-anaknya,berkhidmat kepada suami : sebagai kewajiban) sesuai tugas/peran yang disematkan padanya.

arab

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS Annisa :32)

Ketentuan mutlak Sang Khaliq lah apakah kita perempuan yang kemudian menjadi ibu ataukah lelaki yang akhirnya mengemban amanah sebagai Ayah. Tidak pernah Sang Maha Kuasa bermusyawarah dulu dengan kita, kamu mau jadi perempuan atau laki-laki. Toh seandainya itu terjadi, di alam rahim kita ngga’ mengerti apa saja tugas yang bakal kita emban kelak selama menjadi khalifatullah di muka bumi. Maka, Ketika kita dipilihNya sebagai seorang perempuan syukuri, nikmati tugas-tugas kita dan jangan pernah berangan-angan menjadi lelaki dengan kelebihan tersendiri yang ada pada masing-masing kita. Dan begitu pula sebaliknya. Yakinilah Dia Maha Adil dan tidak menzalimi hamba-Nya. Hamba-Nyalah yang menzalimi diri sendiri, ketika tidak puas dengan jenis kelamin yang dipilih Sang Pencipta untuknya yang dicipta. Lalu timbullah orang-orang yang kebanci-bancian. Na’uzubillah min zalik.

Panjang benerr ya. Intinya saya terilhami untuk menjalani homeschooling dalam mendidik anak. Untuk saat ini homeschooling yang dijalani adalah untuk anak usia dini, dan selanjutnya tentunya akan tetap dipertimbangkan dan dimusyawarahkan bersama keluarga.

Karena Idealnya HS ini didukung oleh keluarga inti (ayah, ibu, dan anak-jika telah memahami apa itu pendidikan sekolah dan Homeschooling). Alhamdulillah, Kata sepakat setelah musyawarah menjadikan kegiatan ini menyenangkan dan nyaman dari segala pihak terutama anak dan orang tua. Jalani dengan kesungguhan. InsyaAllah, dengan izin-Nya visi keluarga akan terwujud.

  • bungatunggal2Alasan Sosialisasi, sebagaimana kata webinar kemarin, definisinya tidak hanya bergaul dengan sebaya, tua dan muda, namun yang juga tak kalah penting adalah transfer nilai. Ini pula salah satu alasan yang memperkuat hati kami untuk mencarikan teladan yang baik untuk anak-anak kami. Yang mana, nilai-nilainya, kemuliaannya, baiknya akhlaknya, cara bertutur dan sebagainya. Semampu kami. Karena mendidik anak sepenuh hati merupakan investasi terbaik yang bisa kami titipkan ke dalam tabungan akhirat kami.

Kami meyakini setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada tipe anak yang bisa duduk tenang dan berkonsentrasi mendengarkan ilmu dari guru, ada yang lebih suka belajar sambil menghirup udara segar di alam terbuka, ada yang unggul di satu mata pelajaran dan kurang di pelajaran lain, ada yang suka belajar dengan hal-hal yang disenanginya saja (minat), dan ada yang berkebutuhan khusus. Maka dengan Homeschooling hal-hal ini akan lebih cepat dikenali dan dicarikan solusi terbaiknya.Setiap anak diciptakan unik (limited edition), tidak ada yang benar-benar sama satu dan lainnya. Begitu pula dengan visi yang dicita-citakan sebuah keluarga akan berbeda sesuai ilmu dan pengalaman yang telah dilakoni. Maka, bersyukurlah dan terus berjuang. Alhamdulillah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s